Berita Terbaru
Live
wb_sunny

Breaking News

Misi Perjalanan Donald Trump ke Arab Saudi

Misi Perjalanan Donald Trump ke Arab Saudi

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump memilih Arab Saudi sebagai negara tujuan dalam perjalanan pertamanya ke luar negeri. Ia dijadwalkan tiba di Riyadh pada hari Jumat (19/5/2017) dan kemudian terbang ke Palestina pendudukan untuk merintis jembatan antara Saudi-Israel.

Rezim Al Saud sangat penting untuk menggairahkan perekonomian AS dan pemerintahan Trump bahkan memilih menutup mata atas dukungan Riyadh kepada kelompok-kelompok teroris seperti, Al Qaeda dan Daesh atau pelanggaran HAM luas di Arab Saudi.

Dalam kunjungan ini, Trump dan Menteri Pertahanan Saudi Mohammed bin Salman akan menandatangani kontrak penjualan senjata, yang melampaui lebih dari 300 miliar dolar selama satu dekade ke depan. Angka penjualan ini terbilang fantastis dalam beberapa tahun terakhir.

Padahal, Saudi sendiri sedang menghadapi penurunan tajam pendapatan minyak dan defisit anggaran. Tapi, mereka tidak ragu-ragu untuk mengeluarkan dana ratusan miliar dolar demi kepentingan AS.

Trump – sebelum dan setelah pemilu presiden AS – berkali-kali mengatakan bahwa semua sekutu Washington harus membayar biaya keamanan mereka kepada pemerintah AS. Oleh karena itu, Gedung Putih telah menyiapkan paket ratusan miliar dolar dalam bentuk penjualan senjata atau investasi bersama, di mana akan diwujudkan dalam kunjungan Trump ke Riyadh.

Upaya memperbaiki hubungan antara kedua pihak ini tentu akan meningkatkan dukungan AS untuk kampanye pengeboman tanpa ampun Arab Saudi di Yaman. AS telah menjadi pemasok senjata teratas ke Saudi, di mana tanpa henti menggempur Yaman, membunuh ribuan warga sipil, dan menyebabkan apa yang disebut PBB sebagai salah satu krisis kemanusiaan terburuk di dunia.

Kunjungan Trump ke Riyadh dan Tel Aviv ingin menegaskan bahwa Arab Saudi dan Israel harus menunjukkan perilaku sebagai sekutu. Saudi akan memainkan peran penghubung untuk menciptakan hubungan antara dunia Islam dan dunia Arab dengan Israel.

Negara kaya minyak itu akan mengambil peran dalam kebijakan luar negeri AS seperti, menggelar konferensi Arab-Islam-Amerika di Riyadh dengan mengundang sejumlah pemimpin negara Muslim dan Arab, dan pertemuan terpisah antara para pemimpin Dewan Kerjasama Teluk Persia dengan Trump.

Presiden AS telah menyusun dua agenda politik di kawasan ini yaitu, membentuk NATO Arab yang independen tanpa campur tangan AS, tapi tetap dengan dukungan mereka, dan kemudian membanjiri Timur Tengah dengan senjata.

Namun, konsep NATO Arab menghadapi tantangan serius karena perbedaan dan persaingan yang tajam di antara negara-negara Arab sendiri atau antara negara-negara Arab dan Muslim, sehingga sangat sulit untuk membangun sebuah aliansi militer seperti Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO).

Pengalaman perang di Irak, Suriah, dan Yaman juga menunjukkan bahwa Arab Saudi dan sekutunya tidak memiliki kemampuan dan kapasitas untuk membentuk sebuah aliansi militer.

Meski demikian, para pejabat Washington sedang berusaha untuk melimpahkan tanggung jawab yang lebih besar kepada Riyadh. Namun, ada pemain-pemain lain di Timur Tengah yang mampu menggerus pengaruh Riyadh, bahkan jika Amerika dan Eropa membanjiri Saudi dengan senjata dan mesin-mesin perang.

Sumber : nasionalita.com


Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.