Ad 728x90

Breaking News

Disparitas Harga Elpiji Semakin Besar, Madu Lezat Para Pencoleng elpiji 3 kg


Jakarta I lingkarkonsumen.com - Kebijakan Pemerintah yang belum pernah menaikkan harga elpiji 3 kg sejak komoditi tersebut diluncurkan kurang lebih satu dekade lalu telah menimbulkan disparitas harga yang cukup tinggi dengan harga elpiji non subsisi (12 kg dan 50 kg). Harga elpiji 3 kg selama ini diberlakukan sama dengan harga minyak tanah subsidi di masa lalu, yang ketika itu selalu tetap di angka Rp 2.500 per liter.

Direktur Eksekutif Pusat Studi Kebijakan Publik (Pusekepi), Sofyano Zakaria, selisih harga yang cukup lebar tersebut menjadi “madu” yang sangat lezat bagi para pencoleng elpiji 3 kg. “Dampaknya adalah, alokasi elpiji 3 kg untuk rakyat tidak mampu malah lari ke pihak lain yang tidak berhak karena diselewengkan oleh oknum-oknum tidak bertanggung jawab. Ini harus jadi perhatian pemerintah,” ujar Sofyano di Jakarta, Jumat (29/9).

Menurut pengamat kebijakan energi ini, elpiji 3 kg memang bukan barang bisnis. Oleh karena itu, memasarkan elpiji 3kg tidak menggunakan sistim marketing tetapi alocating. ”Dan menurut saya ini harus secara perlahan dirubah oleh pemerintah,” ucapnya.

Sofyano menambahkan, meskipun tidak termasuki kategori produk bisnis, namun elpiji 3 kg ternyata sangat diincar banyak pihak untuk dijadikan ladang bisnis yang menguntungkan.

“Di sisi lain, disparitas harga yang cukup tajam antara harga elpiji subsidi dengan non subsidi justru membuat pihak swasta tidak tertarik untuk menggeluti bisnis elpiji non subsidi,” tukasnya.


Akibatnya, lanjut dia, bisnis tersebut nyaris tidak mampu membuat Pertamina bisa menghasilkan laba maksimal. “Padahal, banyak pihak yang mempersoalkan tidak maksimalnya peran Pertmina dalam memberikan laba dan dividen kepada negara. Ini hal yang sangat bertolak belakang,” pungkasnya.

Sebelumnya, Direktur Utama Pertamina Elia Masa Manik mengungkapkan, pihaknya sudah berkoordinasi dengan pemerintah dan kementerian terkait termasuk Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian untuk mengajukan kenaikan harga elpiji 3 kg.

Pasalnya, pihaknya memperkirakan subsidi gas elpiji 3 kg bakal mengalami pembengkakan menjadi Rp 40 triliun di tahun 2017. Jumlah ini lebih tinggi dari angka pembengkakan subsidi elpiji tahun lalu yang mencapai Rp 38 triliun.

Memang, kata Elia, tahun ini subsidi elpiji 3 kg dianggarkan sebesar Rp 20 triliun di APBN 2017. Namun diperkirakan jatah tersebut tidak cukup karena kenaikan konsumsi masyarakat serta harga acuan CP Aramco.

“Subsidi itu telah ditetapkan Rp 20 triliun. Tapi tahun ini diperkirakan jadi Rp 40 triliun,” ungkap Elia di Gedung DPR Senayan, Jakarta beberapa waktu lalu.

Elia memperkirakan, pada masa Ramadhan hingga Lebaran subsidi elpiji bisa mencapai Rp 20 triliun. “Mungkin kan selama jelang Lebaran ini naik dulu terus nanti turun. Mungkin sekitar Rp 20 triliun lah hingga pertengahan tahun,” ujar Elia.

Namun pada kesempatan yang berbeda, Menteri ESDM Ignasius Jonan menyebutkan pemerintah telah sepakat tidak akan menaikkan harga jual BBM dan gas elpiji 3 kg sampai Juni 2017.
“Nanti yang putuskan Presiden dibahas dulu dalam rapat kabinet (soal perubahan harga BBM dan elpiji),” ujar Jonan.

By : Djunaedy







Berita Satu